Aku tau betul bahwa hari seperti ini akan tiba jua pada akhirnya. Hari dimana bersetubuh denganmu terasa begitu nikmat tapi menyakitakan. Hari dimana menyesap aroma tubuhmu dalam tiap tarikan npasku menjadi proses sakral dan ketika aroma tubuh itu memenuhiku ingin ku kunci dan tak kulepaskan lagi agar tetap dapat kurasakan dan menjadi bagian dari ragaku. Andai aku bisa mengajukan satu permohonan keajaiban pada Tuhan, aku ingin memintaNya membunuh cahaya mentari yang akan terbit esok hari. Karena mentari tanpa cahayanya tak kan mampu mendatangkan pagi dan hari tak akan berganti.
Detik, menit, dan jam berlalu dalam sekejap, pagi datang dalam satu kedipan mata. Sekalipun tak kubiarkan mataku terjebak dalam kantuk dan terus terjaga menghitung waktu. Tetal saja pagidatang begitu cepat. Elrik tertidur dengan begitu pulasnya sambil memeluk tubuh telanjangku di balik selimut putih ini. Rasanya begitu nyaman dan hangat ketika keberadaannya menyelimutiku. Tapi begitu perih dan menyesakkan di saat bersamaan. Hela nafasnya yang hangat, irama degup jantungnya yang lembut sesaat lagi akan lenyap.
Elrik mulai terbangun dan melepaskan pelukannya sembari bertanya apakah aku sudah terbangun lama atau aku memang tak menutup mataku sepanjang malam. Yha tentu aku menjawab dengan jujur. Tapi sayang ia tak bergeming. Ia bangun dan melangkan dengan mantap memungut seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dalam waktu yang cukup singkat dan duduk di tepi ranjang untuk memasang kaus kaki dan sepatunya.
Aku memeluknya dengan tubuh telanjangku dari belakang. Kusandarkan kepalaku tepat dibahunya. "Haruskah kau pergi sepagi ini? Takbisakah kau di bersamaku sedikit labih lama?" Aku merengek padanya.
Bukankah akan lebih mudah untuk segera mengakhiri semuanya. Aku sudah katakan padamu ini yang terakhir. Aku hanya ingin membuat pertemuan ini lebih singkat setiknya mungkin akan lebih mudah bagiku melepasmu seperti itu".
"Hemm baiklah. Tapi di pertemuan terakhir ini bolehkah aku meminta satu permohonan. Hanya satu. Tidak lebih dan setelahnya aku akan melepasmu seakan kita tak pernah mengenal satu sama lain. Apakah Aneke akan pulang pagi ini dari Jepang?"
"Tidak, dia baru akan pulang lusa".
"Berarti kau punya waktu cukup luang kan hari ini? Lagipula hari ini hari minggu"
"Yha begitulah".
"Apa kau ingat tiga bulan yang lalu saat aku memintamu mengantarkanku menemani Erika sepupuku memilih gaun pengantinnya? Saat itu tiba-tiba kau menyuruhku mencoba salah satunya dan aku mencobanya. Tepat ketika matamu melihatku dalam balutan gaun itu kau langsung mengatakan bahwa aku tampak begitu cantik. Apa kau tau bahwa selama tujuh tahun kita berhubungan, itu adalah pujian paling spontan yang pertama dan terakhir kalinya hingga saat ini".
"Benarkah? Aku bahkan tak menyadarinya. Perkataanmu barusan membuatku merasa aku memperlakukanmu dengan buruk selama ini".
"Tidak, jangan aku sangat bahagia selama tujuh tahun ini jadi.... baiklah aku ingin memintamu memeluk dan menciumku untuk terakhir kalinya saat aku mengenakan gaun itu. Apakau keberatan ? Aku membelinya minggu lalu tampa alasan yang jelas. Tapi kemudian mungkin kalau aku bisa memintamu hal ini dan kau tak akan keberata. Satu kenangan manis terakhir aku ingin merasakan sekali saja berdiri di sisimu dengan gaun itu."
"Baiklah, yha setidaknya untuk yang terakhir."
Tak butuh waktu yang lama bagiku untuk memakai gaun itu dan merapikan riasan wajah dan rambutku, dan tiba-tiba ia memelukku dari belakang, "maaf seandainya saja aku bisa merubah apa yang terjadi di antara kita, seandainya saat itu aku tak bertemu denganmu". Suaranya mantap ketika berbicara sekalipun tubuhnya bergetar memelukku. Dan aku mengecup bibirnya dengaan sangat lembut. Seandainya detik detik ini bisa berhenti atau setidaknya bergerak lebih lambat ....
"Elrik, kumohon jangan sesali apapun. Penyesalanmu menyakitiku. Aku tau aku bukan wanita baik baik karena aku berhubungan dengan suami dari wanita lain selama tujuh tahun lebih tapi bisa mencintaimu menjadi hal yang paling aku syukuri."
"Alma.......", begitu lembut suaranya menyebut namaku dalam hembusan nafasnya saat mencumbuku.
"Elrik kumohon jangan sesali apapun. Semua begitu indah bagiku saat besamamu selama tujuh tahun ini, kumohon sisakan sedikit saja ruang di hatimu untuk mengenangku. Elrik, hal yang paling menyakitkan bagi seseorang bukan lah kehilangan. Tapi dilupakan. Aku tahu akan sangat menyakitkan mungkin, bahkan keberadaanku adalah hal terburuk bagimu. Tapi ku mohon tetap ingatlah aku sekalipun kau tak ingin menyapaku bila kita bertemu."
Tak satu kata pun kemudian terlontar dari bibirnya. Ia hanya mengecupku sekali lagi dan berlalu dibalik pintu kamar ini yang bergerak menutup, dan disinilah kisah ini berakhir. Antara aku dan dia