Kamis, 14 April 2016

MENGAPA



Mengapa arin bisa masuk dalam kehidupan kohsei dengan mudah

Mengapa arin bisa membuat kohsei melihat dirinya dalam hitungan detik

Mengapa arin, mengapa bukan aku?

Mengapa ? Tuhan, mengapa?

24 januari 2013, hari kamis yang mendung. Sudah lebih dari dua minggu hujan menghiasi surabaya. Namaku Alma, 22  tahun dan pria yang kini di sisiku adalah Kohsei 24 tahun. Jika kalian berpikir siapakah tokoh utama cerita ini mungkin dialah orangnya. Kini kami duduk bersebelahan di ruang tunggu rumah sakit bersalin. Istrinya Arin tadi pagi mengalami kontraksi, bukan hal yang mengejutkan usia kandungannya memang sudah 9 bulan. Sepertinya anaknya akan lahir hari ini dan hari ini akan jadi penentuan keberadaanku dalam cerita ini.
Ijinkan aku bercerita sedikit tentang siapa aku, ari dan kohsei. Namaku  Alma, aku mengenal kohsei sejak kami duduk di bangku taman kanak-kanak. Jika di hitung aku dan kohsei sudah saling mengenal sejak tujuh belas tahun yang lalu. Kami secara ajaib selalu berada di satu kelas yang sama. Tak ada yang istimewa di antara kami. Hanya teman masa kecil yang tetap akrab hingga saat ini. Hanya satu hal yang mungkin membuat hubungan kami unik, sejak tujuh tahun yang lalu aku mulai melihat kohsei sebagai seorang pria dalam diamku dari belakang. Aku tau dia menyadarinya, tapi ia tak pernah membiarkan kepalanya menoleh kearahku.
Arin, wanita paling beruntung di dunia (menurut pandanganku) yang bisa membuat kohsei selalu melihat dirinya, dan karena itu aku “membencinya”. Mungkin setelah ini kalian akan melihatku sebagai tokoh antagonis dalam cerita ini. Arin masuk menjadi bagian cerita dalam kehidupanku dan kohsei sejak tiga tahun lalu.
30 desember 2009 aku dan kohsei yang punya sifat malas yang sama terutama untuk menempuh pendidikan formal memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dan hari itu adalah hari dimana kami membuka toko kue yang kami idam-idamkan sejak zaman SMP mungkin karena kami tumbuh bersama, sekolah bersama dan tinggal saling berdekatan sejak kecil kami jadi sangat akrab hingga kami memiliki beberapa pemikiran yang sama. 
Tepat di hari itu pula Arin masuk dalam kehidupan kami. Seorang wanita sebaya denganku menjadi pelanggan pertama kami. Aku masih ingat bagaimana ia masuk ke toko sambil berlari kecil dengan menenteng payung kecilnya yang rusak karena angin kencang dan hujan deras hari itu. dengan dress berwarna coklat lembut selutut dan berlengan panjang yang basah kuyup terguyur hujan.
Spontan kuambil handuk bersih dari kamar istirahat yang bersebelahan dengan dapur dan memberikannya padanya, “mbak ini handuknya, jangan sampai kedinginan, mau pinjam baju saya? daripada masuk angin nanti” tanyaku padanya
Dengan senyum lembut yang menghiasi bibirnya saat ia berbicara, “nggak papa mbak, kalau boleh saya pesan coklat hangat satu dan lemon chese cream untuk menghangatkan badan” jawabnya
“tentu akan segera saya ambilkan”, kataku padanya. 
Tapi belum aku beranjak dari sisinya, kohsei sudah datang dengan secangkir teh kamomile dan berkata dengan lembut dan senyum yang hangat, “teh kamomile jauh lebih baik dibanding coklat hangat. Teh ini bisa mencegah masuk angin”.
Arin berterimakasih dan menyesap tehnya selagi hangat dan sejak hari itu Arin sering sekali datang ke toko. Tak sekedar membeli kue atau minum minuman hangat. Tak jarang ia juga membawakan kami kue-kue dari toko kue yang berbeda-beda. Menurutnya ini bisa membuatku lebih semangat untuk membuat kue yang jauh lebih lezat dari yang ia bawa. Tapi perlahan namun pasti makna setiap buah tangan, senyum serta segala kenangan manis yang dibawanya ke toko kami hanya untuk kohsei. Aku hanya perantara penyampai pesan dan sejak saat itu aku membencinya
22 agustus 2010 aku menunggu kohsei seharian di toko. Dua bulan terakhir dia sering sekali absen membantuku di toko. Aku tak tau mengapa dan aku juga takut untuk bertanya aku takut dugaan-dugaanku ternyata benar. Karena saat kohsei tak datang ke toko di saat itu pula Arin tak pernah datang ke toko. Namin jawaban yang tak kuharapkan itu datang begitu saja. malam itu saat perjalanan pulang dari toko aku melihat kohsei dan Arin di warung bakso di pinggiran jalan tak jauh dari komplek perumahan dimana aku dan kohsei tinggal tepat saat aku menoleh ke arah mereka saat kohsei mencium lembut bibir Arin.
Mengapa....
Mengapa arin bisa masuk dalam kehidupan kohsei dengan mudah
Mengapa arin bisa membuat kohsei melihat dirinya dalam hitungan detik
Mengapa arin, mengapa bukan aku?
Mengapa ? Tuhan, mengapa?
“Mengapa” menjadi kata tanya yang menyelimuti pikiran dan hatiku yang hancur di detik yang sama saat bibir arin menyentuh bibir kohsei. 
Hari berganti tak ada hal – hal istimewa yang terjadi waktu seakan berlari dalam senyap. Hingga tepat tanggal 1 maret 2011 aku melihat kohsei tak seperti biasanya. Sejak sebulan yang lalu ia tak pernah datang ke toko. Tak terhitung berapa kali sudah aku menghubunginya tapi tik sekalipun ia menjawab. Puluhan bahkan ratusan pesan singkat ku kirimkan tapi hanya sekali ia membalasnya maaf aku sedang ada keperluan untuk beberapa waktu kedepan aku tak bisa membantumu di toko
Aku benar-benar ingin datang menemuinya. Tapi rasa sakit yang akan kualami saat melihat Arin yang mungkin sedang bersamanya membuatku mengurungkan niatku. Namun tepat di hari itu ibu kohsei menghubungiku. Ia memintaku menemui kohsei di rumahnya. Saat itu aku yakin ada yang terjadi antara Arin dan Kohsei. 
Aku selalu takut akan rasa sakit yang datang saat aku melihat kohsei dengan Arin. Tapi kini aku lebih takut bila kohsei harus terluka karena Arin. Aku tak tau mengapa aku justru takut Arin meninggalkan kohsei dibanding berharap hal itu benar benar terjadi. Jelas aku ingin bersama kohsei, tapi jika kohsei harus terluka dulu agar hal itu terjadi maka aku akan mengubur dalam-dalam keinginanku. Tuhan aku akan lakukan apapun yang perlu kulakukan tapi kumohon jangan sakiti kohsei. Kupacu sepedahku dengan kencang ke rumah kohsei. Aku bahkan tak tau apakah aku sudah mengunci toko atau belum.
Sesampainya di rumah kohsei ibunya memintaku membujuk kohsei keluar dari kamarnya, “alma tolong bujuk kohsei keluar. Tante sangat khawatir dia sudah beberapa hari ini mengurung diri di kamar. Ia bahkan hampir tak menyentuh makanannya. Tante mohon alma bujuk kohsei untuk keluar dan makan setidaknya supaya dia tidak sakit. Dia selalu menurut saat kamu yang membujuknya”. Raut wajah penuh cemas melekatpada ibu kohsei. Aku mengangguk dan memeluk ibu kohsei sebentar sebelum menuju ke kamar kohsei
“Koko ini aku Alma, kamu mau bikin toko kita bangkrut? Aku ga bisa ngurus toko sendirian”, aku tak tau mengapa justru kalimat itu yang keluar dari bibirku dan apa yang paling ingin ku utarakan justru tertahan dan tak mampu terucap. “ko ayo...” belum sempat kusesesaikan perkataanku kohsei tiba-tiba membuka pintu dan memelukku erat sekali. Pelukannya terasa sangat menyakitkan bagiku.
“Alma untuk hari ini saja aku pingin tidur di pangkuanmu sekali saja boleh?”, ia bertanya lirih padaku.
Aku hanya diam kemudian duduk di lantai dan bersandar pada tepian ranjang yang ada di kamar kohsei. Aku kemudian memandang kohsei sambih menepuk kedua pahaku dengan kedua tanganku mengisyaratkan ia untuk tidur di pangkuanku.
Saat ia telah membaringkan kepalanya di pangkuanku ia mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang hubungannya dengan Arin yang berakhir sebulan yang lalu dan segala hal yang selama ini terjadi. Rasa trauma arin pada masa lalunya membuat arin terus saja menaruh curiga atas cinta kohsei meski ia tau kohsei tulus mencintainya. Kohsei bercerita tentang keinginannya meminang Arin yang justru berujung pada permintaan putus yang dilayangkan Arin tanpa ragu padanya. Air mata kohsei menetes saat ia bercerita tentang betapa ia mencintai arin. Ia menangis dalam pangkuanku sembari memeluk erat pinggangku.
Beberapa jam kemudian setelah ia mulai tenang aku memintanya beranjak dari pangkuanku. Aku memintanya untuk makan sesuatu dan berhenti membuat ibunya cemas. Ia mengangguk ringan namun tepat saat ku berdiri di ambang pintu hendak luar dari kamarnya tiba-tiba ia memanggilku
“Alma, maaf kumohon maafkan aku, aku tau apa yang kau rasakan terhadapku. Tapi tetap saja aku bersandar padamu saat hubunganku dengan Arin tak berjalan mulus. Maaf karena aku tak pernah melihat kearahmu”, seusai kudengar perkataannya tak ada yang mampu kulakukan selain berlalu.
Arin, aku harus bertemu dengan Arin. Aku ingat aku masih menyimpan nomer telfon genggamnya. Kuhubungi dia dan kuminta dia datang ke toko. Aku berusaha meyakinkannya untuk mau ke toko dan memastikan bahwa kohsei tak ada di sana hingga ia akhirnya bersedia datang. Kuceritakan semua yang ingin kukatakan padanya setelah ia tiba di toko. Betapa aku membencinya dan berharap kohsei meninggalkannya. Betapa aku berharap di hari pertama kami bertemu aku tak membiarkannya masuk dalam tokoku dan betapa aku berharap Tuhan mencabut nyawanya karena ia bisa memiliki kohsei sedangkan aku yang mencintainya sejak dulu tak pernah dilihat oleh kohsei. Aku tak tau bagaimana sumpah serapah itu keluar dari mulutku tapi kemudian aku justru menceritakan padanya betapa kohsei mencintainya dan mengharapnya kembali.
Aku tak tau dan tak pernah mau tau apa yang terjadi kemudian hingga akhirnya 11 juli 2012 mereka menikah. Berita itu sampai di telingaku sebulan sebelumnya dan sejak saat itu aku berdoa pada Tuhan siang dan malam, cabutlah nyawa Arin, jangan biarkan ia menikah dengan kekasihku, cabulah nyawa arin agar hatiku tak teriris sembilu cabutlah nyawa arin dan berikan dia sebagai sesembahan pangan bagi perut bumi.
Tapi sayang doaku tak terkabul hingga kini. Dan sekarang di sinilah aku, duduk menunggu istri dari orang yang paling kucintai melahirkan buah hati mereka. Dan doaku masih tetap sama ‘Tuhan, cabutlah nyawa Arin, jangan biarkan ia hidup lebih lama dengan kekasihku, cabulah nyawa arin agar hatiku tak teriris sembilu cabutlah nyawa arin dan berikan dia sebagai sesembahan pangan bagi perut bumi. Akan kurawat anaknya sepenuh hati tapi bawalah ibunya tak perduli kau kirim ke surga atau kau campak kan di neraka’.
Inilah aku dan kisah kecilku. Aku bisa memahami tiap jiwa yang mengutukku kemudian atas piciknya pikirku, tapi cinta hanya akan menyeretmu ke satu titik dimana kau harus memilih menjadi protagonis penuh keikhlasan dan kebaikan atau antagonis sekalian, dan dari yang sudah tertulis kalian akan melihat jalan mana yang aku pilih. 
Karena ini adalah kesempatan terakhirku. Jika ia tak mati jua saat melahirkan maka aku tak akan bisa lagi melihat diriku bersanding dengan kohsei.



(*untuk temanku Merrie (bukan nama asli)terimakasih atas kisahmu. Tak tau mana yang benar atau mana yang salah. Taktau apakah kau benar tokoh antagonis atau protagonis. Tak tau apakah doa mu yang mengharapkan kematian orang lain itu benar atau salah. Tapi aku mendoakan untuk kebahagiaanmu.)