Jumat, 25 September 2015

Tanya atas Air Mata

Ketika saya mati, akankah ada yang menangisi?
Pertanyaan ini terus bermain di fikiran saya pribadi selama lebih dari 3 tahun terakhir. Terutama sejak saya merasa bahwa saya diperlakukan berbeda oleh anggota keluarga saya. Tentunya ini hanya pandangan subjektif saya. Saya berfikir, seandainya tiba-tiba akhir usia saya tiba akankah mereka menangisi saya?

Saya tak pernah yakin bahwa keberadaan saya diterima oleh keluarga saya. Jujur saya bukan orang dengan kemmpuan komunikasi yang baik. Sikap tempramen yang jarang bisa terkontrol juga menkadikan saya merasa semakin terisolir oleh dunia di sekitar saya.

Hampir setiap orang berharap keberadaannya akan tetap di kenang oleh semua orang terdekatnya. Tapi tidak dengan saya. Saya hanya berani berharap setidaknya mereka mau menyisihkan sedikit dari airmata yang mereka miliki untuk saya. Baik itu untuk rasa duka maupun rasa bahagia karena tak lagi perlu bertemu dwngan orang seperti saya.

Terkadang saat malam datang, saya merasa seakan saya bisa melihat penghalang yang menjebak saya bagai acar timun dalam stoples kaca. Semua begitu nyata jelas dan dekat. Tapi tetap tak tergapai. Tidak. Tidak, sungguh saya tak minta dikenang selamanya ketika usia saya datang pada penghujungnya. Saya hanya berharap ada satu atau dua tetes air mata yang menyatakan bahwa "Yhaaa saya pernah terlihat diantara mereka" terlepas dari bagaimana mereka memandan saya. Setidaknya saya tau saya pernah terlihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar