Kamis, 19 November 2015

Gadis Penjual Apel dan Pangeran Berjubah Hitam


Suatu hari di sebuah kerajaan kecil yang damai tinggalah seorang gadis berusia 15 tahun di sebuah gubuk tua di pinggir wilayah kekuasaan kerajaan tersersebut. Gadis yang hidup dari berjualan apel mengelilingi kerajaan kecil itu setiap hari. Tak banyak yang ia dapat dari berjualan apel setiap harinya, tapi setidaknya itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Bermodal keranjang tangan penuh apel ranum yang menggoda lidah tiap orang yang melihatnya untuk mencicipi ia menyusuri setiap jalan yang dilihatnya. Mengetuk lembut tiap pintu rumah langganannya menawarkan apel pada mereka. Rambut merah keritingnya yang panjang terurai dan senyum manisnya membuat ia mudah dikenali dan itu pulalah yang membuat orang-orang memanggilnya Red. Hampir seluruh penduduk yang hidup di kerajaan itu mengenalnya atau setidaknya tau siapa dia.
Di saat yang bersamaan dalam istana hiduplah seorang pangeran muda yang pendiam yang selalu mengenakan jubah lembut berwarna hitam buatan ibunya kemanapun ia pergi. Ia pandai bermain alat musik. Setiap hari ia memenuhi seisi istana dengan denting lembut piano yang dimainkannya. Ia adalah putra kedua dari sang raja. Orang orang mengenalnya sebagai pemuda yang sangat lembut dan bijak sana Zahari namanya. Dia memang tak banyak bicara tapi dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat humoris secara tiba-tiba dan mencairkan suasana tegang dalam istana. Kemampuannya membawa diri membuat semua orang memujanya sebagai calon raja selanjutnya sekalipun mereka tau bahwa yang akan menjadi raja selanjutnya adalah kakaknya pangeran Hans.
Red dan Zahari adalah dua sosok yang memiliki kehidupan yang cukup bertolah belakang. Mulai dari sisi ekonomi sampai dengan lingkungan sosial yang di hadapi tiap harinya. Tapi keduanya berteman cukup akrab. Tak banyak yang tau hal ini. Hanya seorang pengawal bernama Berto yang mengetahuinya. Suatu hari ketika Zahari menyamar bersama berto untuk berkeliling kerajaan mereka berpapasan dengan Red. Mereka beberapa kali mendengar cerita tentang red. Terutama saat mereka berada di salah satu restoran kecil di dekat pasar. Banyak orang yang membicarakan Red. Bukan hal yang luar biasa. Mereka hanya bercerita tentang kualitas apel yang dijual oleh Red. Hampir semua orang tau Red mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam memilih apel berkualitas terbaik.
Rasa penasaran membuat Berto bertanya tentang Red pasa sang pelayan restoran. “dia adalah gadis penjual apel tuan. Ia pandai memilih apel-apel dengan kualitas yang baik dan rasa yang manis untuk diantar ke pelanggannya. Itulah mengapa semua orang senang membeli apel darinya selain itu ia merupakan gadis yang baik dan ramah. Ia tak enggan membantu para pedagang tua untuk membawakan barangnya. Yha ia memang gadis yang baik hanya saja ia kadang juga bisa jadi sangat cerewet”.
Tak lama setelah mereka keluar dari restoran datang seorang gadis berrambut merah yang menawarkan apel pada mereka. Nada suaranya memang agak tinggi. Tapi ia menawarkan apel jualannya sembari tersenyum ramah. Sang paneran langsung bisa menebak siapa yang ada di hadapan mereka. Pertemuan itu menjadi awal mereka menjadi teman akrab. Sesekali sang pangeran datang ke kota membeli beberapa apel dari Red. Setelah beberapa kali bertemu red menawarkan untuk mengantar apel ke rumah sang pangeran dua kali satu minggu.
Awalnya red terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa pemuda yang membeli apelnya tinggal di istana. Ia baru tahu kemudian hari saat ia datang ke istana sesuai janjinya bahwa pria itu adalah pangeran Zahari.
Pertemuan demi pertemuan terjadi, rutinitas yang awalnya sekedar mengantar apel kemudia berkembang menjadi pertemuan panjang dengan jutaan kisah yang diceritakan oleh Zahari ataupun Red.  Zahari kemudian mengenal Red sebagai seorang gadis yang merindukan keluarganya. Sudah 4 tahun kini sejak Red hidup sendiri karena kedua orang tuanya tenggelam saat berlayar ke kerajaan tetangga untuk mengunjungi keluarga mereka. Sedangkan Red mengenal Zahari sebagai seorang pemuda yang memiliki keinginan besar melihat dunia lebih dekat, dan Red juga melihat Zahari sebagai seorang pemuda yang siap memulai hidupnya dari titik nol karena baginya untuk dapat berdiri sendiri diluar bayangan ayahnya adalah impian besar yang pantas untuk dikejar.
Red selalu senang mendengar Zahari berbicara Red juga selalu senang melihat bagaimana Zahari melihatnya sebagai sesama manusia sekalipun kesenjangan sosial dan ekonomi mereka terlihat jelas dan perlahan Red mulai menaruh hati pada Zahari di kemudian hari. Kebijaksanaan dan kedewasaan Zahari membuat Red merasa nyaman berada di sisi Zahari. Bagaimana Zahari ingin berjuang Dari nol untuk memulai hidupnya membuat Red berani berharap di kemudian hari bahwa ia bisa bersama Zahari.
Namun tiba-tiba Red mendengar dari Berto bahwa Zahari sedang jatuh hati pada seorang putri dari kerajaan tetangga. Seorang putri cantik, anggun dan pintar. Semua sisi dari sang putri hanya menampilkan kesempurnaan. Red terluka pada awalnya. Ia merenung dan berjalan menyusuri desa hari itu hingga akhirnya berhenti di depan etalase sebuah toko malam itu. dari kaca jendela kemudia ia melihat bayangannya,”siapa aku? Rambut merahku, gaun kumuh dan sederhana yang menempel di tubuhku, keranjang apel tua dan mantel tua yang belubang menghias tubuhku tubuh tambun yang begitu menjijikkan. Beraninya aku berharap pada sang pangeran”. Red kemudian mengenakan tudung mantelnya dan berlari pulang.
Sejak saat itu ia mulai menjaga jarak dari Zahari. Mereka bahkan tak pernah bertemu lagi. Red memang masih sesekali berusaha menemui Zahari sebagai seorang teman. Namun Zahari sedang sibuk dengan kekasihnya dan rencananya meninggalkan istana. Awalnya Red terkejut namun kemudian ia hanya sesekali datang mengantarkan apel dan menyapa sang pangeran kemudia pergi. Karena ia taut keberadaannya akan mengganggu.
Tiga tahun berselang sejak terakhir kali Red bertemu dengan Zahari. Kini mereka sama-sama dewasa. Namun tiba-tiba kerajaan memberika berita bahagia perkawinan pangeran mereka. Red yakin itu pasti berita pernikahan Zahari dan putri Melfira. Namun Red benar-benar terkejut saat ia melihat dan membaca pengumuman bahwa putri Melfira akan menikah dengan pangeran Hans. Saat ia berbalik setelah membaca pengumuman itu samar-samar ia seakan melihat bayangan mantel Zahari berlalu diantara kerumunan. Red hanya diam dia yakin itu pasti Zahari tapi ia tak bergerak dari tempatnya berdiri sekalipun hatinya sangat ingin mengejar Zahari dan memeluknya sembari bertanya apa yang terjadi. Tapi sayangnya hanya airmatanya yang berlari turun rari wajahnya.
Setelah keramaian pernikahan di kerajaan berlangsung Red bertemu dengan Berto tanpa sengaja. Berto bercerita tentang apa yang terjadi sekalipun Red tak bertanya apapun. “apakah kau masih menyimpan perasaan untuk Zahari?” adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Berto kemudian. Red tak mampu menjawabnya.
Berto kemudian bercerita bahwa setahun yang lalu Zahari berhasil menakhlukkan sebuah wilayang kecil di utara kerajaan yang dulunya memberontak pada kerajaan. Zahari menaklukkan daerah itu dengan tangannya sendiri atas kemampuannya. Karena itu kemudian Zahari diberi kesempatan untuk membangun kerajaannya sendiri dimulai dari wilayah yang ia taklukkan dengan syarat ia tak boleh menyatakan perang pada kerajaan kakaknya. Namun sayangnya keberhasilan kecinya harus dibayar mahal. Putri Melfira merasa tak sanggup untuk berada di sisi Zahari karena Zahari terlalu sibuk dengan Kerajaan kecilnya yang ia pimpin. Entah bagaimana kemudian Hans yang menikahi Melfira pada akhirnya.
Zahari tampak terluka namun ia menerima dengan lapang dada. Namun sejak saat itu Zahari lebih sering mengunci diri dalam istananya dan menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijak sana dari dalam istananya. Berto memberikan peta menuju ke istana Zahari pada Red. Dan meminta Red untuk menggapai orang yang disayanginya itu.
Dengan jutaan rasa perih yang menyelimutinya atas duka yang menenggelamkan Zahari dari mentari di luar istananya. Red datang ke istana Zahari hari itu juga dengan kereta kuda saudagar tua yang dikenalnya. Namun yang dihadapi Red hanya sebuah gerbang tinggi nan tebal yang mengelilingi istana. tak ada orang yang bisa keluar masuk semaunya di istana itu kecuali dengan izin sang pangeran. Red tau ia tak akan mampu membukanya sendiri ataupun memanjatnya. 
Red kemudian datang ke istana setiap harinya mulai saat itu. Ta hanya menunggu dan berharap suatu hari Zahari mau membuka Gerbang istana dan membiarkannya masuk sebagai seorang wanita. Red yakin Zahari tau tentang perasaannya, bahkan orang seperti Berto yang tak pandai menilai orang lain sekalipun tau bagaimana perasaan Red pada Zahari. Sesekali dititipkannya pada sang pengawal sepucuk surat dan sebutir apel untuk Zahari. Pernah satu kali pesannya dibalas oleh Zahari dengan dingin tapi itu cukup untuk menyakinkan Red tetap menunggu Zahari.

Beberapa waktu kemudian berlalu, Red menghilang dan tak pernah lagi tampak menjajakkan apel mengelilingi kerajaan. tak pernah ada yang tau kemana ia menghilang. Hingga saat ini belum ada kepastian apakah Red akhirnya bisa masuk ke dalam istana Zahari atau tidak. Namun satu hal yang pasti Red terus menunggu Zahari dengan setia di balik gerbang tinggi  istana sekalipun dinginnya salju menusuk tulang ataupun panasnya mentari membakar tubuh. Tapi tak ada yang tau apakah Red menghilang karena ia berhasil masuk ataukah ia menghilang karena kekuatannya untuk menunggu terkikis oleh waktu. Hanya Zahari yang kini menjadi satu-satunya orang yang tau bagaimana akhir kisah ini, karena hanya Zahari yang bisa menentukan akhir cerita ini apakah akan indah bagi Red dan Zahari atau hanya berujung pada penantian tak terbatas oleh Red atau bahkan ketabahan Red yang harus dipaksa menyerah oleh waktu.


                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar