Suatu hari di
sebuah kerajaan kecil yang damai tinggalah seorang gadis berusia 15 tahun di
sebuah gubuk tua di pinggir wilayah kekuasaan kerajaan tersersebut. Gadis yang
hidup dari berjualan apel mengelilingi kerajaan kecil itu setiap hari. Tak
banyak yang ia dapat dari berjualan apel setiap harinya, tapi setidaknya itu
cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Bermodal keranjang tangan penuh apel
ranum yang menggoda lidah tiap orang yang melihatnya untuk mencicipi ia
menyusuri setiap jalan yang dilihatnya. Mengetuk lembut tiap pintu rumah
langganannya menawarkan apel pada mereka. Rambut merah keritingnya yang panjang
terurai dan senyum manisnya membuat ia mudah dikenali dan itu pulalah yang
membuat orang-orang memanggilnya Red. Hampir seluruh penduduk yang hidup di
kerajaan itu mengenalnya atau setidaknya tau siapa dia.
Di saat yang
bersamaan dalam istana hiduplah seorang pangeran muda yang pendiam yang selalu
mengenakan jubah lembut berwarna hitam buatan ibunya kemanapun ia pergi. Ia
pandai bermain alat musik. Setiap hari ia memenuhi seisi istana dengan denting
lembut piano yang dimainkannya. Ia adalah putra kedua dari sang raja. Orang
orang mengenalnya sebagai pemuda yang sangat lembut dan bijak sana Zahari namanya.
Dia memang tak banyak bicara tapi dia bisa berubah menjadi seseorang yang
sangat humoris secara tiba-tiba dan mencairkan suasana tegang dalam istana.
Kemampuannya membawa diri membuat semua orang memujanya sebagai calon raja
selanjutnya sekalipun mereka tau bahwa yang akan menjadi raja selanjutnya
adalah kakaknya pangeran Hans.
Red dan Zahari
adalah dua sosok yang memiliki kehidupan yang cukup bertolah belakang. Mulai
dari sisi ekonomi sampai dengan lingkungan sosial yang di hadapi tiap harinya.
Tapi keduanya berteman cukup akrab. Tak banyak yang tau hal ini. Hanya seorang
pengawal bernama Berto yang mengetahuinya. Suatu hari ketika Zahari menyamar
bersama berto untuk berkeliling kerajaan mereka berpapasan dengan Red. Mereka
beberapa kali mendengar cerita tentang red. Terutama saat mereka berada di
salah satu restoran kecil di dekat pasar. Banyak orang yang membicarakan Red.
Bukan hal yang luar biasa. Mereka hanya bercerita tentang kualitas apel yang
dijual oleh Red. Hampir semua orang tau Red mempunyai kemampuan yang luar biasa
dalam memilih apel berkualitas terbaik.
Rasa penasaran
membuat Berto bertanya tentang Red pasa sang pelayan restoran. “dia adalah
gadis penjual apel tuan. Ia pandai memilih apel-apel dengan kualitas yang baik
dan rasa yang manis untuk diantar ke pelanggannya. Itulah mengapa semua orang
senang membeli apel darinya selain itu ia merupakan gadis yang baik dan ramah.
Ia tak enggan membantu para pedagang tua untuk membawakan barangnya. Yha ia
memang gadis yang baik hanya saja ia kadang juga bisa jadi sangat cerewet”.
Tak lama
setelah mereka keluar dari restoran datang seorang gadis berrambut merah yang
menawarkan apel pada mereka. Nada suaranya memang agak tinggi. Tapi ia
menawarkan apel jualannya sembari tersenyum ramah. Sang paneran langsung bisa
menebak siapa yang ada di hadapan mereka. Pertemuan itu menjadi awal mereka
menjadi teman akrab. Sesekali sang pangeran datang ke kota membeli beberapa
apel dari Red. Setelah beberapa kali bertemu red menawarkan untuk mengantar
apel ke rumah sang pangeran dua kali satu minggu.
Awalnya red
terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa pemuda yang membeli apelnya tinggal
di istana. Ia baru tahu kemudian hari saat ia datang ke istana sesuai janjinya
bahwa pria itu adalah pangeran Zahari.
Pertemuan demi
pertemuan terjadi, rutinitas yang awalnya sekedar mengantar apel kemudia
berkembang menjadi pertemuan panjang dengan jutaan kisah yang diceritakan oleh
Zahari ataupun Red. Zahari kemudian
mengenal Red sebagai seorang gadis yang merindukan keluarganya. Sudah 4 tahun
kini sejak Red hidup sendiri karena kedua orang tuanya tenggelam saat berlayar
ke kerajaan tetangga untuk mengunjungi keluarga mereka. Sedangkan Red mengenal
Zahari sebagai seorang pemuda yang memiliki keinginan besar melihat dunia lebih
dekat, dan Red juga melihat Zahari sebagai seorang pemuda yang siap memulai
hidupnya dari titik nol karena baginya untuk dapat berdiri sendiri diluar
bayangan ayahnya adalah impian besar yang pantas untuk dikejar.
Red selalu
senang mendengar Zahari berbicara Red juga selalu senang melihat bagaimana
Zahari melihatnya sebagai sesama manusia sekalipun kesenjangan sosial dan
ekonomi mereka terlihat jelas dan perlahan Red mulai menaruh hati pada Zahari
di kemudian hari. Kebijaksanaan dan kedewasaan Zahari membuat Red merasa nyaman
berada di sisi Zahari. Bagaimana Zahari ingin berjuang Dari nol untuk memulai
hidupnya membuat Red berani berharap di kemudian hari bahwa ia bisa bersama
Zahari.
Namun
tiba-tiba Red mendengar dari Berto bahwa Zahari sedang jatuh hati pada seorang
putri dari kerajaan tetangga. Seorang putri cantik, anggun dan pintar. Semua
sisi dari sang putri hanya menampilkan kesempurnaan. Red terluka pada awalnya.
Ia merenung dan berjalan menyusuri desa hari itu hingga akhirnya berhenti di
depan etalase sebuah toko malam itu. dari kaca jendela kemudia ia melihat
bayangannya,”siapa aku? Rambut merahku, gaun kumuh dan sederhana yang menempel
di tubuhku, keranjang apel tua dan mantel tua yang belubang menghias tubuhku
tubuh tambun yang begitu menjijikkan. Beraninya aku berharap pada sang
pangeran”. Red kemudian mengenakan tudung mantelnya dan berlari pulang.
Sejak saat itu
ia mulai menjaga jarak dari Zahari. Mereka bahkan tak pernah bertemu lagi. Red
memang masih sesekali berusaha menemui Zahari sebagai seorang teman. Namun
Zahari sedang sibuk dengan kekasihnya dan rencananya meninggalkan istana.
Awalnya Red terkejut namun kemudian ia hanya sesekali datang mengantarkan apel
dan menyapa sang pangeran kemudia pergi. Karena ia taut keberadaannya akan
mengganggu.
Tiga tahun
berselang sejak terakhir kali Red bertemu dengan Zahari. Kini mereka sama-sama
dewasa. Namun tiba-tiba kerajaan memberika berita bahagia perkawinan pangeran
mereka. Red yakin itu pasti berita pernikahan Zahari dan putri Melfira. Namun
Red benar-benar terkejut saat ia melihat dan membaca pengumuman bahwa putri
Melfira akan menikah dengan pangeran Hans. Saat ia berbalik setelah membaca
pengumuman itu samar-samar ia seakan melihat bayangan mantel Zahari berlalu
diantara kerumunan. Red hanya diam dia yakin itu pasti Zahari tapi ia tak
bergerak dari tempatnya berdiri sekalipun hatinya sangat ingin mengejar Zahari
dan memeluknya sembari bertanya apa yang terjadi. Tapi sayangnya hanya
airmatanya yang berlari turun rari wajahnya.
Setelah
keramaian pernikahan di kerajaan berlangsung Red bertemu dengan Berto tanpa
sengaja. Berto bercerita tentang apa yang terjadi sekalipun Red tak bertanya
apapun. “apakah kau masih menyimpan perasaan untuk Zahari?” adalah pertanyaan
yang dilontarkan oleh Berto kemudian. Red tak mampu menjawabnya.
Berto kemudian
bercerita bahwa setahun yang lalu Zahari berhasil menakhlukkan sebuah wilayang
kecil di utara kerajaan yang dulunya memberontak pada kerajaan. Zahari
menaklukkan daerah itu dengan tangannya sendiri atas kemampuannya. Karena itu
kemudian Zahari diberi kesempatan untuk membangun kerajaannya sendiri dimulai
dari wilayah yang ia taklukkan dengan syarat ia tak boleh menyatakan perang
pada kerajaan kakaknya. Namun sayangnya keberhasilan kecinya harus dibayar
mahal. Putri Melfira merasa tak sanggup untuk berada di sisi Zahari karena
Zahari terlalu sibuk dengan Kerajaan kecilnya yang ia pimpin. Entah bagaimana
kemudian Hans yang menikahi Melfira pada akhirnya.
Zahari tampak
terluka namun ia menerima dengan lapang dada. Namun sejak saat itu Zahari lebih
sering mengunci diri dalam istananya dan menjalankan pemerintahan dengan adil
dan bijak sana dari dalam istananya. Berto memberikan peta menuju ke istana
Zahari pada Red. Dan meminta Red untuk menggapai orang yang disayanginya itu.
Dengan jutaan
rasa perih yang menyelimutinya atas duka yang menenggelamkan Zahari dari
mentari di luar istananya. Red datang ke istana Zahari hari itu juga dengan
kereta kuda saudagar tua yang dikenalnya. Namun yang dihadapi Red hanya sebuah
gerbang tinggi nan tebal yang mengelilingi istana. tak ada orang yang bisa keluar masuk semaunya di istana itu kecuali dengan izin sang pangeran. Red tau ia tak akan mampu
membukanya sendiri ataupun memanjatnya.
Red kemudian datang ke istana setiap
harinya mulai saat itu. Ta hanya menunggu dan berharap suatu hari Zahari mau
membuka Gerbang istana dan membiarkannya masuk sebagai seorang wanita. Red yakin Zahari tau tentang perasaannya, bahkan orang seperti Berto yang tak pandai menilai orang lain sekalipun tau bagaimana perasaan Red pada Zahari. Sesekali
dititipkannya pada sang pengawal sepucuk surat dan sebutir apel untuk Zahari.
Pernah satu kali pesannya dibalas oleh Zahari dengan dingin tapi itu cukup
untuk menyakinkan Red tetap menunggu Zahari.
Beberapa waktu kemudian berlalu, Red menghilang dan tak pernah lagi tampak menjajakkan apel mengelilingi kerajaan. tak pernah ada yang tau kemana ia menghilang. Hingga saat
ini belum ada kepastian apakah Red akhirnya bisa masuk ke dalam istana
Zahari atau tidak. Namun satu hal yang pasti Red terus menunggu Zahari dengan
setia di balik gerbang tinggi istana
sekalipun dinginnya salju menusuk tulang ataupun panasnya mentari membakar
tubuh. Tapi tak ada yang tau apakah Red menghilang
karena ia berhasil masuk ataukah ia menghilang karena kekuatannya untuk
menunggu terkikis oleh waktu. Hanya Zahari yang kini menjadi satu-satunya orang
yang tau bagaimana akhir kisah ini, karena hanya Zahari yang bisa menentukan akhir cerita ini apakah akan indah bagi Red dan Zahari atau hanya berujung pada penantian tak terbatas oleh Red atau bahkan ketabahan Red yang harus dipaksa menyerah oleh waktu.