Jumat, 25 September 2015

Karena Aku Mencintainya

Aku mencintainya. Itu sederhana sekali. Semua yang aku lakukan karena aku mencintainya. Hanya itu. Hanya untuk bersamanya satu atau dua detik jika harganya adalah nyawa, bagiku itu bukan hal yang sulit.

                                        ***

21 januari 1998, hari itu mentari menodongkan sinarnya mencekik setiap tenggorokan orang- orang yang berada di luar ruangan. Keringat mengguyur tiap helai serat pakaian yang menempel di tubuhku. Tak perlu waktu lama bagiku hingga akhirnya aku menemukan tempat tujuanku. Kafe kecil milik Alana yang berdiri dengan elegan di daerah kemang memang tak terlalu mencolok tapi tetap menarik perhatian mereka yang lewat di hadapannya untuk sekedar mampir dan melepas jerat terik mentari dari tekak.

Begitu kumasuki ruangan yang dingin dengan suara halus deru pendingin ruangan itu, wajahnya begitu mudah aku temukan. Warna silfer dari rambut Alana yang mencolok membuatnya menarik perhatianku seketika. Alana adalah gadis tionghoa kelahiran 23 juni dua puluh tujuh tahun yang lalu. Kerusakan pigmen warna rambut yang dialaminya sejak sekolah dasar membuatnya kehilangan warna hitam rambutnya sejak usia belia.

Gerutu darinya menyambut kedatangnku begitu ia melihatku memasuki kafe kecil ini. Tampaknya ia menunggu cukup lama. Wajah cemberutnya tak mampu menyembunyikan kecantikan wanita lembut ini. Aku heran mengapa diusianya sekarang ia belum juga menikah, padahal ia hampir memiliki seluruh kriteria wanita idaman.

Aku Armanto Sujatmiko. Pribumi asli kelahiran 20 Maret tiga puluh tahun yang lalu. Aku bekerja sebagai pegawai negeri. Tidak, aku bukan seorang pejabat pemerintah atau sejenisnya. Aku hanya seorang guru sekolah dasar. Terkadang aku sering berpikir bagaimana Tuhan dengan segala kemurahan kasihnya memberiku kesempatan untuk mengenal seseorang seperti Alana. Tak banyak keturunan tionghoa dari keluarga berada sepertinya yang bersedia menerima orang sepertiku beada di sisinya. Yha dia kekasihku. Sudah sekitar satu tahun terakhir aku memadu kasih dengannya.

Aku mengenal Alana sejak sekolah dasar. Ibuku adalah salah seorang pembantu yang dipekerjakan di rumah keluarga Alana. Dulu hanya sekedar salam sapa yang berani ku utarakan saat bertemu dengannya itupun hanya sekedar basa basi sopan santun.

Meski aku sering bertanya-tanya mengapa ia belum juga menikah, tapi aku bersyukur karenanya. Karena aku kini bisa benar- benar di sisinya. Bukan sekedar mengintipnya dari balik tirai dapur tempat ibuku memasak untuk keluarganya.


Tak mudah memang berada di sisinya. Omongan keluarganya tentang kami serta ketakutan yang dialami ibu karena tak ingin dicemooh oleh tetangga atas hubunganku dengan Alana yang berbeda etnis dan agama menjadi beberapa kerikil yang menyayat hati kami dari awal hubunganku hingga kini. Tapi semua berjalan begitu saja. Kurasa semua yang kami hadapi memang membuat kami lebih tegar.

Butuh waktu lama hingga akhirnya segala kekesalannya selesai ia utarakan melalui gerutu manisnya. Hemmm aku hanya bisa tersenyum menunggunya mereda siang itu kemudian menjelaskan apa yang terjadi hingga aku terlambat.

Tapi penjelasanku tampaknya tak membuat wajahnya cerah. Aku membaca kekhawatirannya siang itu. Kutanyakan apa yang terjadi dan ia mulai bercerita. Keadaan politik di Indonesia kini memang mulai memburuk, dan kini keberadaan kaum minoritas sepertinya semakin tertekan. Bulan depan seluruh keluarganya akan pindah ke singapura.

Tak pernah ada satu orangpun yang ingin berpisah dari orang yang dicintai. Tapi aku sadar benar keadaan saat ini memang tak aman untuknya tetap berada di indonesia. Tanpa berfikir panjang aku menyuruhnya ikut dengan keluarganya ke Singapura.

Air mata berlinang membasuh wajah beningnya yang lembut. Aku bisa memahami kepedihan dan ke khawatirannya. Dengan lembut kuyakinkan ia untuk ikut dengan keluarganya ke Singapura dengan segala pertimbangan dan argumen tepat yang dapat ia terima. Denga lembut direngkuhnya tangaku ke pipinya yang basah itu dan ia berkata "jika tiap detik denganmu harus dibayar dengan satu tahun sisa hidupku. Aku tak akan mengeluh".

                                  ***

Dan kini waktu pembayaran itu benar- benar datang. Sudah berhari- hari kami kini bersembunyi di dapur belakang kafe. Beberapa bulan telah berlalu sejak keluarga Alana pindah ke Singapura. Argumen apapun tak bisa membuat aku meyakinkan Alana untuk ikut dengan keluarganya. Dan kini tinggallah aku dengannya berdua di sini bersembunyi.

Rasanya seperti kembali ke jaman penjajahan. Bedanya kini kaum pribumi yang memburu kaum minoritas. Perekononian indonesia yang hancur memicu pergolakan mengerikan. Para kaum Tionghoa yang di nilai sebagai penguasa pasar dan yang memonopoli perekonomian menjadi sasaran amarah. Darah mereka seakan tidak lebih berharga dibanding air kencing yang dibuang setiap harinya.

Kafe ini juga tak luput dari penjarahan. Penganiayaan atas nama reformasi menjadi belati yang menyayat jantung kami tiap detiknya dan menjebak kami berada dalam ketakutan yang semakin dalam. Untungnya aku dan Alana masih bisa bersembunyi di dapur belakang.

Tapi suara langkah serta dentuman itu hari ini seakan menemukan jalannya untuk menuju buruannya. Aku dekap erat Alana di dalam pelukanku dan kukatakan padanya kalau saja ia ikut keluarganya ia tak akan terjebak dalam bahaya seperti ini. Tapi justru dalam keadaan seperti ini ia mengecupku lembut dalam genang air mata. Diulaskannya senyum tulus dalam cekam ketakutan yang meronta. "Aku tak menyesali apapun. Tidak setiap detik, kata, kenangan yang kita lewati". Itu menjadi kalimat terakhir yang aku dengar hingga akhirnya mereka menemukan kami. Kini hanya denging pekak telinga dari lolongan derita yang tersisa.

Orang-orang itu melampiaskan semua pada Alana. Aku ditarik mindur karena mereka tau aku pribumi. Ia di ikat di kursi di hadapanku. Ditelanjangi dan dimandikan cairan bensin menyengat. Aku meronta memekik meminta dilepaskan. Hingga seorang pria di sisiku berbisik."diamlah atau kau mau dibakar bersama wanita cina sialan itu".

Ku berlutut terdiam. Lalu apa? Apa yang bisa kulakukan setelah ia tiada. Jika seluruh keberadaannya lenyap. Maka jiwaku akan lenyap bersamanya. Tepat ketika mereka mulai merenggangkan cengkraman tangan mereka dariku. Aku seketika melepaskan diri dan memeluk erat Alana. Masih kudengar degup jantungnya tapi safas seakan tak tersisa. Kulepas ikatannya dan kurengkuh tubuh telanjangnya yang dingin. Aku tetap bersamamu sampai akhir.

Aku mencintainya. Itu sederhana sekali. Semua yang aku lakukan karena aku mencintainya. Hanya itu. Hanya untuk bersamanya satu atau dua detik jika haganya adalah nyawa, bagiku itu bukan hal yang sulit.

Aroma bensin menyapa dan menyelimuti aku dan Alana. Mereka membakar habis kafe ini bersama kami didalamnya. Tak apa. Kematian hanya harga yang cukup bisa kubayar untuk tiap detikku dengannya.

Andai mata benar- benar menjadi jendela hati. Tidakkah gadisku telah menunjukkan betapa ia tak punya dosa. Bukan salahnya dilahirkan sebagai tionghoa. Bukan salahnya ia mencintai pribumi. Bukan salahnya ia dilahirkan dalam keluarga kaya. Kami hanya sedikit diantara mereka yang meregang nyawa, jiwa, serta harapan atas luapa amarah masa. Kami hanya dua orang yang mencinta di tempat dan waktu yang lasah. Namun kami tak akan menyesali apapun.

1 komentar:

  1. Cerita di atas murni fiksi belaka. Saya mencoba mengambil latar tragedi 98 tapi jika ada kelasahan fakta sejarah saya mohon maaf. Karena saya menulis tanpa obserfasi. Maaf saya menulis ini jam 2 malam dan saya rasa obserfasi akan memakan waktu dan membuat saya begadang. Maaf karena menjadi penulis yang kurang bertanggung jawab

    BalasHapus